Renungan Jumat, 22 Desember : Gara-Gara Tuhan

0
3107

22 Desember 2017

Hari Biasa Khusus Adven

Bacaan Pertama: 1Sam 1:24-28;Hana bersyukur atas kelahiran Samuel.

Pembacaan dari Kitab Pertama Samuel:

Sekali peristiwa, setelah Samuel disapih oleh ibunya, Hana, ia dihantar ke rumah Tuhan di Silo, dan bersama dia dibawalah seekor lembu jantan yang berumur tiga tahun, satu efa tepung dan sebuyung anggur. Waktu itu Samuel masih kecil betul. Setelah menyembelih lembu, mereka mengantarkan kanak-kanak itu kepada Eli. lalu Hana berkata kepada Eli, “Mohon bicara tuanku! Demi Tuanku hidup, akulah perempuan yang dahulu berdiri di sini, dekat Tuanku untuk berdoa kepada Tuhan. Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan Tuhan telah memberikan kepadaku apa yang kuminta dari pada-Nya. Maka aku pun menyerahkannya kepada Tuhan; seumur hidupnya terserahlah anak ini kepada Tuhan.” Lalu sujudlah mereka semua menyembah Tuhan.

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur: 1Sam 2:1.4-5.6-7.8abcd; Hatiku bersukaria karena Tuhan, penyelamatku.

  • Hatiku bersukacita karena Tuhan, aku bermegah-megah karena Allahku.Mulutku mencemoohkan musuhku,aku bersukacita karena pertolongan-Mu.
  • Busur para pahlawan telah patah, tetapi orang-orang lemah dipersenjatai kekuatan. Orang yang dulu kenyang kini harus mencari nafkah,tetapi yang dulu lapar kini boleh beristirahat. Orang yang mandul melahirkan tujuh anak, tetapi orang yang banyak anaknya menjadi layu.
  • Tuhan berkuasa mematikan dan menghidupkan, Ia berkuasa menurunkan ke alam mautdan mengangkat dari sana.Tuhan membuat miskin dan membuat kaya, Ia merendahkan, dan meninggikan juga.
  • Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu, dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur, untuk mendudukkan dia di antara para bangsawan, dan memberi dia kursi kehormatan.

 

Bacaan Injil: Luk 1:46-56 ; Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Dalam kunjungannya kepada Elisabet, ketika dipuji bahagia, Maria memuliakan Allah dan berkata, “Jiwaku memuliakan Tuhan,dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku, dan nama-Nya adalah kudus. Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya, dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya, dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” Kira-kira tiga bulan lamanya Maria tinggal bersama Elisabet, lalu pulang ke rumahnya.

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan: Gara-Gara Tuhan

Dalam suatu kesempatan acara syukuran tak jarang kita mendengar orang mengatakan: “Syukur dan terima kasih atas berkat ini, karena kasih Tuhan maka ini semua bisa terjadi.”. Tidak sedikit orang yang dengan penuh syukur bersukacita dan merasakan bahwa semua yang mereka alami adalah karena Tuhan. Mereka mengalami betapa Tuhan telah mengerjakan banyak hal yang baik sehingga membuat mereka berhasil, sukses dan gembira. Kesan yang berbeda saat kita menghadiri suatu acara kedukaan atau ketika mendengarkan curhatan seorang teman yang sementara ditimpa masalah. Tak jarang keluhan, penyesalan, bahkan tuduhan terhadap Tuhan pun terlontar. Semua gara-gara Tuhan.

Benar bahwa Tuhan senantiasa hadir menyertai kita dalam pelbagai pengalaman hidup entah suka maupun duka. Tetapi, apakah Tuhan juga menyebabkan kemalangan kita sehingga kita pantas mengeluh bahkan menyangsikan eksistensinya?

Injil hari ini mengisahkan kepada kita tentang kidung pujian Maria. Kidung ini tidak sekedar mengungkapkan pujian pribadi Maria kepada Tuhan tetapi juga serentak memberikan bagi kita suatu cara pandang baru tentang penyelenggaraan Ilahi yang mendampingi perjalanan dan pergumulan hidup kita. Di hadapan Elizabet yang memuji dia sebagai yang berbahagia, Maria justru dengan rendah hati dan penuh syukur meneruskan pujian itu kepada Tuhan. Bagi Maria sungguh benarlah bahwa segala sesuatu yang sementara ia alami adalah buah penyelenggaraan Tuhan. Maria menyadari bahwa secara manusiawi ia tidak sanggup menyelami dan mengerti tentang perbuatan Tuhan atas dirinya. Ia pun menyadari bahwa dengan menyanggupi keterpilihannya sebagai bunda Penebus, ia akan menghadapi banyak penolakan, pergumulan, ejekan, bahkan kedukaan. Tetapi dalam hal inilah Maria mengajarkan suatu cara pandang baru terhadap penyelenggaraan Tuhan atas hidupnya. Bagi Maria segala kekuatiran, kecemasan, ketidakpastian akan apa yang akan dia alami itu tidaklah penting. Yang terpenting adalah keyakinannya bahwa “mulai sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku…”. Maria menunjukkan bahwa Tuhan bukanlah penyebab kemalangan, dukacita, bencana bahkan penderitaan. Bagi Maria Tuhan sungguh telah mengerjakan banyak hal dalam hidupnya dan lebih daripada itu bahwa segala yang Tuhan kerjakan itu merupakan perbuatan-perbuatan besar yang membawa sukacita di hadapan banyak keturunan, membuahkan rahmat bagi orang yang takut akan Dia. Maria meyakinkan kita bahwa segala perbuatan Tuhan itu penuh kuasa dan mampu mencerai beraikan dan menurunkan orang-orang yang angkuh dan tidak setia kepadaNya. Keyakinan akan kuasa dan pendampinganNya menghasilkan kebaikan bagi setiap orang yang mempercayakan diri kepadaNya.

Masa Adven tinggal beberapa hari lagi. Itu tandanya hari kelahiran Tuhan penyelenggara hidup kita  sudah semakin dekat. Inilah saatnya untuk mengubah paradigma tentang penyelenggaraan Tuhan atas seluruh pergumulan hidup kita. Bunda Maria telah memberikan teladan bagaimana seharusnya kita mensyukuri segala sesuatu dan tidak ada alasan bagi kita untuk mengeluh, membantah, menyangsikan eksistensinya. Tuhan telah menyertai, Tuhan sementara menyertai dan akan terus menyertai kita. Percayalah bersama Dia kita boleh berkata: “jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah penyelamatku”.

Penulis renungan
Pst.Andreas Rumayar, pr

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini