Renungan Selasa 17 Okt: Inner Cleanness & Inner Beauty

0
1530

PW S. Ignasius dari Antiokhia, Uskup dan Martir; Selasa Pekan Biasa XXVIII

Bacaan 1 : Rom 1:16-25 Mazmur : Mzm 19:2-5; Injil : Luk 11:37-41

Bacaan Pertama: Rom 1:16-25

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma: Saudara-saudara,
aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil itu kekuatan Allah
yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalam Injil kebenaran Allah menjadi nyata, dan kebenaran itu bertolak dari iman dan menuju kepada iman, seperti ada tertulis, “Orang benar akan hidup oleh imannya.”

Sebab murka Allah nyata dari surga
atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman. Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah telah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuasaan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran tentang karya-Nya
sejak dunia dijadikan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau pun mengucap syukur kepada-Nya.
Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia,
dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.
Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi nyatanya mereka telah menjadi bodoh. Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang baka dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat, atau binatang-binatang yang menjalar.

Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada nafsu kecemaran mereka, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka.Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta, dan memuja serta menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya,
Amin. Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur
Mzm 19:2-5: R:2a:langit mewartakan kemuliaan Allah.

*Langit menceritakan kemuliaan Allah,
dan cakrawala memberitakan karya tangan-Nya;hari yagn satu mengisahkannya kepada hari yang lain, dan malam yang satu menyampaikan pengetahuan kepada malam berikut.

*Meskipun tidak berbicara, dan tidak memperdengarkan suara, namun di seluruh bumi bergaunglah gemanya, dan amanat mereka sampai ke ujung bumi.

Bait Pengantar Injil
Ibr 4:12
Sabda Allah itu hidup dan penuh daya,
menguji segala pikiran dan maksud hati.

Bacaan Injil; Luk 11:37-41

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Pada suatu ketika, selesai mengajar,
Yesus diundang seorang Farisi untuk makan di rumahnya.  Maka masuklah Yesus ke rumah itu, lalu duduk makan.
Tetapi orang Farisi itu heran melihat Yesus tidak mencuci tangan sebelum makan. Lalu Tuhan berkata kepadanya,
“Hai orang-orang Farisi, kamu membersihkan cawan dan pinggan bagian luar, tetapi bagian dalam dirimu penuh rampasan dan kejahatan.
Hai orang-orang bodoh, bukankah yang menjadikan bagian luar, Dialah juga yang menjadikan bagian dalam? Maka berikanlah isinya sebagai sedekah, dan semuanya akan menjadi bersih bagimu.

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan: Inner Cleanness & Inner Beauty

Secara adat ketimuran, sopan santun dan adat istiadat tentu sangat penting. Tidak berbeda dengan Timur Tengah dan Israel. Apalagi daerah padang gurun yang berdebu. Maka kebersihan adalah salah satu hal yang sangat penting.

Akan tetapi dalam kisah Injil hari ini (Luk 11:37-41) diceritakan bahwa ketika Yesus diundang makan oleh seorang Farisi, Yesus tidak melakukan ritual mencuci tangan. Tentu hal ini tidak wajar bagi orang-orang Farisi yang sangat ketat dalam memegang tradisi. Tapi tentu saja, bukan Yesus kalau tidak ada maksud yang terkandung dalam setiap tindakan yang diambilnya.

(Catatan: metode seperti inilah yang biasa dipakai Yesus untuk menyampaikan pesanNya. Ingat peristiwa ketika para murid bertanya mengenai siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?
Yesus tidak menjawab secara langsung, tapi memanggil seorang anak kecil, lalu menempatkannya di tengah-tengah para rasul. Sesudah itu barulah Yesus menjelaskan. “Barangsiapa ingin menjadi yang terbesar, hendaknya ia menjadi seperti anak kecil ini…..”
Metode lain yang dipakai Yesus adalah dengan perumpamaan. Dengan kata lain, Yesus memakai visualisasi, memberi contoh yang bisa dibayangkan secara visual. Ini sama dengan tindakan konkrit. Bisa dilihat dan mudah dimengerti. Misalnya, pertanyaan mengenai siapakah sesamaku? Dijawab Yesus dengan bercerita – bukan berteori. “Adalah seorang yang turun dari Yeriko ke Yerusalem” Itulah perumpaan tentang orang Samaria yang baik hati)

Kembali ke renungan kita kali ini.
Yesus ingin mengajarkan sesuatu yang sangat penting bagi orang-orang Farisi dan Ahli Taurat. Berangkat dari hal yang sangat sederhana, tapi justru yang dilupakan mereka, yakni pentingnya kebersihan itu dilihat dari dalam.

Dengan memprotes sikap Yesus dalam hal ini kelalaian Yesus tidak mencuci tangan, ada alasan justru bagi Yesus, untuk menyampaikan pesannya melalui sikapnya tidak mengikuti ritual mencuci tangan. Inilah kesempatan memprotes apa yang menjadi kebiasaan orang-orang Farisi dan Ahli Taurat: lebih mementingkan yang di luar dari pada apa yang di dalam.

Bersih dari luar memang penting, tapi lebih penting lagi bersih dari dalam atau ‘inner cleanness’. Atau ungkapan lain ‘inner beauty’ (kecantikan dari dalam).
Menurut Ps John Karundeng almarhum, “biar tangan kotor – karna memegang tanah – yang penting hati bersih”.

Orang Farisi lebih mengutamakan yang kelihatan dari luar, akhirnya bersikap munafik atau hipokrit, karena menyembunyikan apa yang di dalam. Mereka menganggap diri paling benar dan paling suci, dengan menunjukkan kepada orang lain kebiasaannya yang saleh, padahal di dalam hati penuh prasangka, iri dan benci, serta hal-hal jahat lainnya.

Perkataan Yesus mengenai sifat tidak bagus mereka, tentu bertentangan dengan suasana perjamuan saat itu. Harusnya acara makan bersama menjadi suasana santai dan penuh gurauan, malah menjadi suasana tegang dan penuh sorotan ktitik.
Tapi sekali lagi begitulah Yesus Tuhan kita, yang tidak mau berbasa basi untuk sebuah kebenaran.
Bagi yang tidak terima dengan ungkapan Yesus, tentu mereka menjadi jengkel dan merencanakan yang jahat terhadap Yesus. Tapi bagi yang hatinya bersih, teguran Yesus menjadi berkat bagi dia untuk lebih mampu membersihkan hati. Tidak berprasangka buruk dan lebih melihat yang baik, benar dan positif dalam diri orang lain.

Tentu kita tidak mau dipersamakan dengan orang Farisi. Tapi kita juga akui bahwa belum bisa sesempurna hati Yesus. Karena itu, kita selalu berdoa “Ya Yesus, jadikanlah hati kami seperti hatiMu”.

Semoga kisah kecaman Yesus bagi orang Farisi ini menjadi siraman rohani bagi hidup kita. Berusaha terus dengan meminta pertolongan Roh Kudus, membersihkan hati dan pikiran kita dari hal-hal yang jahat.
Dan bagi yang ingin kelihatan cantik, semoga mengutamakan kecantikan hati dan budi, melalui tutur kata, sikap dan perbuatan yang membawa berkat bagi orang lain.

Seperti kata-kata Yesus ini, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Mat.5:16)

Atau seperti nasehat Paulus kepada jemaat di Filipi (4:9)
“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” Damai dan sukacita dari Tuhan ada dalam hati kita. Amin

penulis renungan
Pst. Revi Tanod, pr

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini