Salah Peran

0
62

Merenungkan Sabda
Senin, 03 Juni 2024
PW. St. Karolus Lwanga, dkk., Martir.
(2 Ptr.1:1-7, Mrk.12:1-12)

Selalu ada kekacauan atau perselisihan jika kita melakukan apa yang bukan tugas dan wewenang kita. Jika kita melakukan hal yang melampauwi batas tugas dan tanggung jawab kita, maka kita akan bersinggungan dengan pihak-pihak lain, yang membiliki peran dan tugas di bidang yang sudah ditetapkan. Biarlah kita mengerjakan apa yang menjadi wewenang dan tanggung jawab kita, maka semuannya akan menjadi indah, baik dan menentramkan. Dalam pengalaman hidup kita, orang melakukan yang bukan tugasnya atau nencampuri tugas orang lain akan dikatakan sebagai “yang gila urusan” atau “salah peran”.

Perumpamaan Kebun anggur dan para penggarap sebenarnya melukiskan situasi yang jelas tentang peran masing-masing dalam dunia Perkebunan di Palestina. Ada pemilik kebun, ada pengawas sekaligus berperan penagih atas hasil panen, ada para penggarap dan ada ahli waris. Semua memiliki peran dan fungsi yang jelas. Pemilik tanah dan kebun anggur adalah Allah, sedangkan orang-orang Israel dilukiskan sebagi kebun anggur. Para nabi sebagai utusan-utusan dari pemilik kebun anggur. Sebagai pemilik kebun anggur, Ia memercayai para pekerja upahan (pemuka agama Yahudi dan imam-imam kepala dan tua-tua orang Yahudi) untuk menggarap lahan anggur. Walau pemilik anggur tidak berada di tempat, ia selalu memantau kebun anggurnya dari jauh dengan cara mengutus orang untuk menagih hasil panen.

Situasi menjadi tak terkendali ketika Para penggarap merasa diri sebagai orang yang berhak atas kebur anggur itu dan hasil-hasilnya. Untuk mencapai rencana jahat, mereka tidak memperdulikan utusan dari sang pemilik kebun anggur, bahkan juga ahli waris satu-satunya dari kebun anggur itu. Sebagai penggarap atau sebagai orang upahan kebun tetapi berlagak sebagai Tuan kebun. Akhirnya di kebun anggur itu terjadi kekacauan bahkan kejahatan.

Dari perumpamaan ini kita bisa belajar bahwa:

(1) Mari kita bekerja sesuai dengan fungsi dan peran kita masing-masing. Jika kita focus pada peran dan tanggung jawab kita masing-masing maka pekerjaan kita akan menjadi baik dan kita tidak akan mengusik kehiudpan orang lain. Biarlah orang lain mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawabnya dan kita melakukan apa yang menjadi tanggung jawab kita. Jika kita dibutuhkan maka pasti ada permohonan bantuan dari pihak lain, tetapi permohonan bantuan ini bukanlah menggantikan peran orang lain. Sifatnya hanyalah membantu.

(2). Mari kita perlu menahan diri untuk tidak mencampuri tugas dan tanggun jawab orang lain. Mungkin kita lebih tahu, mungkin kita lebih maju dalam usah, mungkin kita lebih berkuasa, atau mungkin kita menganggap diri memiliki status sosial yang lebih baik, sehingga kita merasa lebih unggul. Tetapi jika bidang itu bukanlah wewenang dan tanggung jawab kita, hendaklah kita bisa menahan diri. Menahan diri adalah satu keutamaan sekligus memberi kesempatan orang lain berkarya dan menghargai pribadi yg diberi peran dan tanggung jawan sesuai bidang tugasnya

Semoga kita menyadari dan melaksanakan peran dan tanggung jawab kita masing-masing. Jika sesama kita membutuhkan batuan, patutlah kita saling membantu, tetapi bukan mengambil alih peran dan fungsi mereka. Amin.

AMDG. Pst. Y.A.
St. Ignatius, Manado

Beri Komentar

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda di sini